Cerpen " Backstreet " Eps 3

Izal Noera

SEBELUMNYA
    Hari ini adalah hari pertamaku masuk di SMA Bina Mandiri sekaligus hari pertama MOS (Masa Orientasi Siswa). Aku takut dengan MOS dimana MOS adalah ajang balas dendam menurutku, aku takut sekali maklumlah aku inikan anak manja jadi wajarlah kalau aku takut MOS. Tapi, semua perasaan takut di hatiku hilang begitu saja saat kakak dewan/ panitia MOS memperlakukan kami dengan baik tak ada kekerasan semua baik terhadap siswa baru apa lagi kak Dimas "aku tahu namanya dari name tag yang ada di almamaternya". Katanya sih cowok paling keren di SMA Bina Mandiri ini jadi nggak heran kalau cewek-cewek banyak yang naksir sama kak Dimas, "hemz sudah pinter ganteng lagi" gumamku dalam hati. Hari pertama MOS berjalan dengan lancar sampai hari berikutnya namun berbeda di akhir MOS.
    Hari ini hari terakhir MOS di SMA Bina Mandiri sungguh berbeda dengan hari-hari MOS sebelumnya, kakak-kakak dewan yang baik kini menjadi sosok orang yang garang. Kini aku hidup bagaikan ditengah padang pasir yang gersang dan rasa takut itu datang kembali menyelimuti hati ini. Suasana ceria kini hilang bak ditelan bumi penuh amarah di hari akhir MOS ini bahkan kak Dimas pun berubah menjadi pemarah. Aku dan semua siswa baru di kumpulkan jadi satu di halaman sekolah.
    Dibawah terik sinar sang mentari kami dimarahin bahkan ada yang menangis ada pula yang jatuh pingsan karena tidak kuat menahan lelah, letih dan panasnya matahari. Saat aku merasa ketakutan karena dimarahi hingga mmbuatku tak sadar diri akan panasnya matahari. Dan aku pun tersentak kaget saat ada suara yang menjerit namaku ternyata itu suara kak Dimas yang memanggilku untuk maju kedepan. Di depan teman-teman baruku dan kakak-kakak dewan/ panitia MOS aku dimarahin habis-habisan tanpa kutahu apa salahku. Kak Dimas terus memarahi aku hingga aku pun tak kuasa menahan butir bening yang jatuh membasahi wajahku yang imutz. Aku menagis tersedu-sedu dan disaat aku menangis kak Rangga datang menghampiriku membela aku dan meminta kepada kak Dimas agar berhenti memarahiku. Namun kak Dimas tetap memarahiku. Sampai akhirnya mereka bertengkar perang mulut entah itu bagian dari drama dalam MOS ataukah itu benar yang aku lakukan hanya menangis & menangis.

SELANJUTNYA








 

إرسال تعليق

Terima kasih telah berkunkung ke website kami. Kami akan segera membalas komentar Anda
إرسال تعليق
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.