Bahasa Indonesia adalah pelajaran
favoritku apa lagi kalau membahas puisi atau cerita. Dari aku masih duduk di
bangku SD sampai sekarang aku tetap suka sama pelajaran ini. Bahkan aku
bercita-cita ingin jadi penulis terkenal.
“Zal, loe udah ngerjain tugasnya ?”
Tanya Doni
“Sudah dong” Jawab Rizal yang
berdiri hendak mengumpulkan tugasnya
“Wika silahkan maju baca puisinya” Suruh pak Aris
TERPASUNG
RINDU
Lama
sudah kita tak bertemu
Terpisah
ruang dan waktu
Sedang
apa kau disana ?
Ribuan
hari kulalui tanpamu
Pahit
getirnya pun telah aku rasakan
Hidup
tanpa orang terkasihIngin rasa aku berjumpa
Rindu
ini terus memasung hati
Pikiranku
pun mulai terantaiAgar selalu ingat dirimu
Hingga
membuatku enggan kelain hati
Wahai
sang maha cinta Bebaskan aku dari belenggu
rindu ini
Rindu
yang memasung hati Rindu yang selalu sesakan dada Hingga air mata jatuh
membasah
Penyair
Galau
Setelah aku maju membaca puisi yang aku buat semalam
teman-teman memberikan tepuk tangan untukku. Puisi yang sengaja aku buat untuk
orang yang istimewa orang telah membuatku berusaha tegar menghadapi pahitnya
ejekan orang-orang sekitar.
“Cie.. yang lagi kangen” Ledek Sacista
“Sudah dibaca semua kan puisinya? oh ya, buat Doni harus selesesai
tugasnya minggu depan. Berhubung jam pelajaran sudah habis bapak akhiri saja
Wassalamu’alaikum. Sampai jumpa minggu depan”
Kata pak Aries
Seminggu telah
berlalu dan hari ini tepat tanggal 13 November 2015. Seperti yang di katakan
oleh pak Aries hari ini adalah hari pertama kita berkemah di bumi perkemahan
cipait. Jam 10.00 WIB kami telah sampai di bumi perkemahan karena jarak yang
tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Tidak membuang waktu ketika sampai di lokasi kami langsung
mendirikan tenda masing-masing. Tiga puluh menit kemudian tenda telah rapih
terpasang. Hari pertama tidak terlalu padat dengan kegiatan setelah apel kami
beristirahat sampai sekitar pukul 13.00 WIB lalu dilanjut dengan hastakarya
sampai dengan pukul 16.00 WIB.
Waktu terlalu
cepat berputar hingga tanpa terasa sudah hari kedua kami disini. Setelah apel
pagi acara selanjutnya adalah hyking. “Apak aku bisa?” Tanyaku dalam hati
“Baiklah, sebentar lagi kita akan hyking menelusuri hutan
pegunungan. Jadi, persiapkan diri kalian.
Pukul 08.00 WIB hyking
dimulai semua anak bergegas dan berjalan melintasi jalan setapak. Mereka
terlihat begitu senang tapi tidak denganku. Apakah aku sanggup berjalan
menempuh jarak 30 KM. Sedangkan baru beberapa meter saja dari tempat perkemahan
dadaku sudah mulai sesak sulit untuk bernafas. Tapi, aku berusaha untuk
menjalani hyking ini karena pengalaman pertamaku hyking mendaki pegunungan dan
menelusuri hutan yang rimbun.
“Ka, apa engkau masih sanggup?” Tanya Rizal penuh perhatian
“Masih kok, masih kuat” Jawabku
…………………………………………………………………………………………………………
“Ka, sebenernya waktu pentas seni kemarin di perkemahan ada
sesuatu hal yang ingin aku katakan”
“Emang apa yang ingin engkau katakan ?” Tanyaku
“Hmmm..” Rizal menghela nafas “a.a...aku” Ucapnya terbatah-batah
“A.., apa ? Tanyaku penasaran
“Aku sayang kamu” Ucapnya malu-malu
Seketika itu
suasana menjadi hening, sunyi dan sepi tak ada kata yang terucap lagi. Aku dan
Rizal terdiam hanya saling menatap. Tanpa ku sadari pipiku membasah terbasuh
air mata, aku menangis saat ia mengungkapkan perasaannya.
“Kenapa kamu menangis?” Rizal bertanya sembari berusaha menghapus
air mataku yang terus jatuh
“Tidak ada apa-apa” Jawabku singkat
“Kalau tidak ada apa-apa
kenapa engkau jatuhkan air matamu” Rizal kembali bertanya
“Zal, apakah engkau benar-benar sayang padaku? apakah engkau juga
bisa menerima keadaanku yang seperti ini? atas penyakit yang aku derita”
Tanyaku yang kembali menangis.
“Ka, lihatlah aku “ Rizal
menggenggam tanganku
“Rasa ini tulus dari hati, sebelum rasa ini hadir aku sudah tahu
tentangmu bahkan tentang lemah jantungmu. Aku mencintaimu Ka, akan kuterima
keadaanmu” Rizal kembali mengungkapkan perasaannya.
“Zal, sebenarnya aku juga
sayang sama kamu” Ucapku seraya menatap matanya yg kini mulai
berkaca-kaca.
“Tapi, aku tidak mau menjadi beban dalam hidupmu atas penyakitku.
Lebih baik kita berteman saja” Ucapku kembali
“Kenapa Ka ?” (Tanya Rizal sedikit menaikan nada bicaranya) “Kita
saling suka kenapa kita tidak mencoba untuk bersama, apa engkau ragu dengan
perasaanku?”
“Tiada maksud untuk meragukan perasaanmu Zal. Tapi, sudah terlalu
menyakitkan bagiku sangat menyakitkan. Aku juga mengerti aku hanya orang yang
lemah tidak seperti yang lainnya. Padahal aku juga ingin seperti mereka, ingin
merasakan indahnya di sayangi. Namun semuanya terasa berat mendengar hianaan
dan ejekan tentangku. Akan aku terima kenyataan pahit ini” Jelasku
“Ka, percayalah semua insan yang bernafas itu berhak di cinta dan
mencintai, abaikanlah hinaan yang menimpamu. Engkau yang menjalani bukan
mereka” Katanya sedikit menenagkan. “Sekarang jawab dengan jujur Ka, apakah
engkau mau jadi kekasihku?” Tanya Rizal yang sedari tadi menanti jawabanku atas
perasaanya
“Hmmm...” (aku menghela nafas, lalu kupeluk Rizal dan berbisik
“Iyah aku mau”
SELESAI
