Marmut Coklat Part 02 Cerpen

Contoh cerpen Bahasa Indonesia
Izal Noera



Bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritku apa lagi kalau membahas puisi atau cerita. Dari aku masih duduk di bangku SD sampai sekarang aku tetap suka sama pelajaran ini. Bahkan aku bercita-cita ingin jadi penulis terkenal.
“Zal, loe udah ngerjain tugasnya ?” Tanya Doni
“Sudah dong” Jawab Rizal yang berdiri hendak mengumpulkan tugasnya
“Wika silahkan maju baca puisinya” Suruh pak Aris

TERPASUNG RINDU
Lama sudah kita tak bertemu
Terpisah ruang dan waktu
Sedang apa kau disana ?
Ribuan hari kulalui tanpamu
Pahit getirnya pun telah aku rasakan
Hidup tanpa orang terkasihIngin rasa aku berjumpa
Rindu ini terus memasung hati
Pikiranku pun mulai terantaiAgar selalu ingat dirimu
Hingga membuatku enggan kelain hati
Wahai sang maha cinta Bebaskan aku dari belenggu  rindu ini
Rindu yang memasung hati Rindu yang selalu sesakan dada Hingga air mata jatuh membasah
Penyair Galau

Setelah aku maju membaca puisi yang aku buat semalam teman-teman memberikan tepuk tangan untukku. Puisi yang sengaja aku buat untuk orang yang istimewa orang telah membuatku berusaha tegar menghadapi pahitnya ejekan orang-orang sekitar.
“Cie.. yang lagi kangen” Ledek Sacista
“Sudah dibaca semua kan puisinya? oh ya, buat Doni harus selesesai tugasnya minggu depan. Berhubung jam pelajaran sudah habis bapak akhiri saja Wassalamu’alaikum. Sampai jumpa minggu depan”  Kata pak Aries
            Seminggu telah berlalu dan hari ini tepat tanggal 13 November 2015. Seperti yang di katakan oleh pak Aries hari ini adalah hari pertama kita berkemah di bumi perkemahan cipait. Jam 10.00 WIB kami telah sampai di bumi perkemahan karena jarak yang tidak terlalu jauh dari sekolah kami. Tidak membuang waktu  ketika sampai di lokasi kami langsung mendirikan tenda masing-masing. Tiga puluh menit kemudian tenda telah rapih terpasang. Hari pertama tidak terlalu padat dengan kegiatan setelah apel kami beristirahat sampai sekitar pukul 13.00 WIB lalu dilanjut dengan hastakarya sampai dengan pukul 16.00 WIB.
            Waktu terlalu cepat berputar hingga tanpa terasa sudah hari kedua kami disini. Setelah apel pagi acara selanjutnya adalah hyking. “Apak aku bisa?” Tanyaku dalam hati
“Baiklah, sebentar lagi kita akan hyking menelusuri hutan pegunungan. Jadi, persiapkan diri kalian.
Pukul 08.00  WIB hyking dimulai semua anak bergegas dan berjalan melintasi jalan setapak. Mereka terlihat begitu senang tapi tidak denganku. Apakah aku sanggup berjalan menempuh jarak 30 KM. Sedangkan baru beberapa meter saja dari tempat perkemahan dadaku sudah mulai sesak sulit untuk bernafas. Tapi, aku berusaha untuk menjalani hyking ini karena pengalaman pertamaku hyking mendaki pegunungan dan menelusuri hutan yang rimbun.
“Ka, apa engkau masih sanggup?” Tanya Rizal penuh perhatian
“Masih kok, masih kuat” Jawabku
…………………………………………………………………………………………………………
“Ka, sebenernya waktu pentas seni kemarin di perkemahan ada sesuatu hal yang ingin aku katakan”
“Emang apa yang ingin engkau katakan ?” Tanyaku
“Hmmm..” Rizal menghela nafas “a.a...aku” Ucapnya terbatah-batah
“A.., apa ? Tanyaku penasaran
“Aku sayang kamu” Ucapnya malu-malu
            Seketika itu suasana menjadi hening, sunyi dan sepi tak ada kata yang terucap lagi. Aku dan Rizal terdiam hanya saling menatap. Tanpa ku sadari pipiku membasah terbasuh air mata, aku menangis saat ia mengungkapkan perasaannya.
“Kenapa kamu menangis?” Rizal bertanya sembari berusaha menghapus air mataku yang terus jatuh
“Tidak ada apa-apa” Jawabku singkat
“Kalau tidak ada apa-apa  kenapa engkau jatuhkan air matamu” Rizal kembali bertanya
“Zal, apakah engkau benar-benar sayang padaku? apakah engkau juga bisa menerima keadaanku yang seperti ini? atas penyakit yang aku derita” Tanyaku yang kembali menangis.

“Ka,  lihatlah aku “ Rizal menggenggam tanganku
“Rasa ini tulus dari hati, sebelum rasa ini hadir aku sudah tahu tentangmu bahkan tentang lemah jantungmu. Aku mencintaimu Ka, akan kuterima keadaanmu” Rizal kembali mengungkapkan perasaannya.
“Zal, sebenarnya aku juga  sayang sama kamu” Ucapku seraya menatap matanya yg kini mulai berkaca-kaca.
“Tapi, aku tidak mau menjadi beban dalam hidupmu atas penyakitku. Lebih baik kita berteman saja” Ucapku kembali
“Kenapa Ka ?” (Tanya Rizal sedikit menaikan nada bicaranya) “Kita saling suka kenapa kita tidak mencoba untuk bersama, apa engkau ragu dengan perasaanku?”
“Tiada maksud untuk meragukan perasaanmu Zal. Tapi, sudah terlalu menyakitkan bagiku sangat menyakitkan. Aku juga mengerti aku hanya orang yang lemah tidak seperti yang lainnya. Padahal aku juga ingin seperti mereka, ingin merasakan indahnya di sayangi. Namun semuanya terasa berat mendengar hianaan dan ejekan tentangku. Akan aku terima kenyataan pahit ini” Jelasku
“Ka, percayalah semua insan yang bernafas itu berhak di cinta dan mencintai, abaikanlah hinaan yang menimpamu. Engkau yang menjalani bukan mereka” Katanya sedikit menenagkan. “Sekarang jawab dengan jujur Ka, apakah engkau mau jadi kekasihku?” Tanya Rizal yang sedari tadi menanti jawabanku atas perasaanya
“Hmmm...” (aku menghela nafas, lalu kupeluk Rizal dan berbisik “Iyah aku mau”

SELESAI

إرسال تعليق

Terima kasih telah berkunkung ke website kami. Kami akan segera membalas komentar Anda
إرسال تعليق
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.